Rabu, Februari 8, 2023

Mau Tahu Apa Itu G20? Untungnya buat Indonesia Apa?

- Advertisement -spot_imgspot_img
- Advertisement -spot_imgspot_img

JAKARTA, newsatu.com — Untuk kali pertama pada 2022 Indonesia memegang Presidensi G20. Mandat ini dilaksanakan sejak 1 Desember 2021 sampai 30 November 2022. Diperkirakan ada sekitar 150 rangkaian pertemuan yang akan dilaksanakan selama Presidensi tersebut berlangsung di Indonesia.

Puncak KTT G20 akan dilakukan di Bali. Namun ada sekitar 19 kota di Indonesia selain Bali yang turut terlibat gelaran G20 ini seperti Jakarta, Bogor, Semarang, Solo, Batam – Bintan, Medan, Yogyakarta, Bandung, Sorong, Lombok, Surabaya, Labuan Bajo, Danau Toba, Manado, Malang, dan lainnya.

Presidensi G20 merupakan tuan rumah penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20. Presidensi G20 ditetapkan secara konsensus pada KTT berdasarkan sistem rotasi kawasan dan berganti setiap tahunnya.

Sebelum diserahkan ke Indonesia, Presidensi G20 dipegang Italia. Penyerahan Presidensi G20 dari Italia ke Indonesia telah dilakukan pada 31 Oktober 2021 di sesi penutupan KTT G20 yang berlangsung di La Nuvola, Roma, Italia. Secara simbolis, Perdana Menteri Italia Mario Draghi menyerahkan palu kepada Presiden Joko Widodo yang akan meneruskan presidensi G20 di tahun 2022.

Presidensi G20 Indonesia 2022 mengangkat tema Recover Together, Recover Stronger. Melalui tema ini, Indonesia ingin mengajak seluruh dunia untuk bahu-membahu, saling mendukung untuk pulih bersama serta tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan.

Lalu apa itu G20 dan apa manfaatnya bagi kita? Berikut fakta tentang G20 yang disarikan dari laman kemenkeu.go.id dan sumber lainnya:

  1. Forum Kerja Sama 19 Negara dan Uni Eropa

G20 adalah forum kerja sama multilateral yang terdiri dari 19 negara utama dan Uni Eropa (EU) yang memiliki kelas pendapatan menengah hingga tinggi, negara berkembang hingga negara maju. Anggota G20 terdiri negara-negara dari berbagai kawasan Amerika Serikat, Kanada, Meksiko, Argentina, Brazil, Inggris, Jerman, Italia, Perancis, Rusia, Afrika Selatan, Arab Saudi, Turki, Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, India, Indonesia, Australia, dan Uni Eropa.

Indonesia menjadi anggota G20 sejak forum internasional tersebut dibentuk pada 1999. Pada saat itu,Indonesia ada dalam tahap pemulihan setelah krisis ekonomi 1997-1998 dan dinilai sebagai emerging economy yang mempunyai ukuran dan potensi ekonomi sangat besar di kawasan Asia. Karena itu, Indonesia hadir dalam G20 mewakili kelompok negara berkembang, kawasan Asia Tenggara, dan dunia Islam.

  1. Berawal dari Pertemuan Tingkat Menteri Keuangan

G20 pada awalnya merupakan pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral. Namun sejak 2008, G20 menghadirkan Kepala Negara dalam KTT dan pada 2010 dibentuk pula pembahasan di sektor pembangunan. Sejak saat itu G20 terdiri atas Jalur Keuangan (Finance Track) dan Jalur Sherpa (Sherpa Track). Sherpa diambil dari istilah untuk pemandu di Nepal, menggambarkan bagaimana para Sherpa G20 membuka jalan menuju KTT (Summit).

BACA JUGA :   Presiden Minta Dukungan Kadin Detailkan Implementasi Transformasi Ekonomi

Sesuai namanya, Finance Track berfokus pada isu keuangan, antara lain kebijakan fiskal, moneter dan Riil, investasi infrastruktur, regulasi keuangan, inklusi keuangan, perpajakan internasional. Pertemuan pada Finance Track dihadiri oleh Menteri Keuangan hingga Gubernur Bank Sentral dari masing-maisng anggota.

BACA JUGA :   Sri Mulyani: Pemda Wajib Alokasikan 8% Dana Covid-19 dari DAU/DBH

Sedangkan Sherpa Track adalah jalur pembahasan dalam forum G20 di bidang-bidang yang lebih luas di luar isu keuangan, antara lain anti korupsi, ekonomi digital, lapangan kerja, pertanian, pendidikan, urusan luar negeri, budaya, kesehatan, Pembangunan, lingkungan, pariwisata, energi berkelanjutan, perdagangan, investasi dan industri, pemberdayaan perempuan.

  1. Peran Nyata G20 pada Dunia

Berbagai peran nyata telah ditorehkan G20 selama penyelenggaraannya. Salah satu kesuksesan G20 terbesar adalah dukungannya dalam mengatasi krisis keuangan global 2008.

Dalam penanganan pandemi COVID-19, G20 memiliki berbagai insiatif antara lain penangguhan pembayaran utang luar negeri negara berpenghasilan rendah, Injeksi penanganan COVID-19 sebanyak lebih dari 5 triliun USD (Riyadh Declaration), penurunan/penghapusan bea dan pajak impor, pengurangan bea untuk vaksin, hand sanitizer, disinfektan, alat medis dan obat-obatan. Selain itu, G20 berperan dalam isu internasional lainnya, termasuk perdagangan, iklim, dan pembangunan.

  1. Manfaat G20 untuk Indonesia

Momentum presidensi ini hanya terjadi satu kali setiap 20 tahun sekali, sehingga harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk memberi nilai tambah bagi pemulihan Indonesia. Presidensi G20 Indonesia ini di tengah pandemi ini menjadi pengakuan atas status Indonesia sekaligus merepresentasikan negara berkembang lainnya.

Sebagai Presidensi, Indonesia dapat mengorkestrasi agenda pembahasan pada G20 agar mendukung dan berdampak positif dalam pemulihan aktivitas perekonomian Indonesia. Sekaligus membuat Indonesia menjadi salah satu fokus perhatian dunia, khususnya bagi para pelaku ekonomi dan keuangan

Pertemuan-pertemuan G20 di Indonesia juga menjadi sarana memperkenalkan pariwisata dan produk unggulan Indonesia kepada dunia internasional, sehingga diharapkan dapat turut menggerakkan ekonomi Indonesia. Diperkirakan akan ada 20.988 delegasi yang akan hadir.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno menyebut gelaran G20 akan berkontribusi terhadap proyeksi peningkatan wisatawan mancanegara hingga 1,8 juta – 3,6 juta dan juga 600 ribu – 700 ribu lapangan kerja baru ditopang kinerja bagus sektor kuliner, fashion, dan kriya.

Sedangkan menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, gelaran G20 akan menciptakan kontribusi US$ 533 juta atau sekitar Rp7,4 triliun pada PDB Indonesia. Peningkatan konsumsi domestik hingga Rp1,7 triliun.

Rangkaian kegiatan G20 di Indonesia juga diperkirakan akan melibatkan UMKM dan menyerap tenaga kerja sekitar 33.000 orang. Menurut Menteri Koperasi dan UMK Teten Masduki, Presidensi G20 juga akan mendorong investasi pada UMKM dalam negeri, mengingat saat ini 80% investor global berasal dari negara-negara G20.

  1. Agenda Prioritas di G20

Seperti dikutip dari laman bi.go.id ada 6 agenda prioritas jalur keuangan dalam presidensi G20 Indonesia 2022. Pertama, Exit Stretegy to Support Recovery, yang membahas bagaimana G20 melindungi negara-negara yang masih menuju pemulihan ekonomi (terutama negara berkembang) dari efek limpahan (spillover) exit policy yang diterapkan oleh negara yang lebih dahulu pulih ekonominya (umumnya negara maju).

BACA JUGA :   UMKM Tonggak Penting dalam Pemulihan Ekonomi Nasional, Kata Wamenkeu

Kedua, mengatasi dampak berkepanjangan (scarring effect) krisis dengan meningkatkan produktivitas dan pertumbuhan jangka panjang, memperhatikan ketenagakerjan, rumah tangga, sektor korporasi, dan sektor keuangan.

Ketiga, standar pembayaran lintas batas negara  (CBP), serta prinsip-prinsip pengembangan CBDC (General Principles for Developing CBDC).

BACA JUGA :   LaNyalla Mattalitti: Ponpes, Kyai, & Santri Mampu Jaga Kearifan Lokal

Keempat, membahas risiko iklim dan risiko transisi menuju ekonomi rendah karbon, dan sustainable finance (keuangan berkelanjutan) dari sudut pandang makroekonomi dan stabilitas keuangan.

Kelima, memanfaatkan open banking untuk mendorong produktivitas dan mendukung ekonomi dan keuangan inklusif  bagi underserved community yaitu wanita, pemuda, dan UMKM, termasuk aspek lintas batas.

Keenam, membahas perpajakan internasional, utamanya terkait dengan implementasi Framework bersama OECD/G20 mengenai strategi perencanaan pajak yang disebut Base Erotion and Profit Shifting (BEPS).

  1. Apa itu B20?

Presidensi G20 Indonesia tahun 2022 juga menjadi kesempatan penting bagi Indonesia untuk memegang palu ketua forum Business-20 atau B20, yang merupakan outreach group G20 yang mewakili sektor bisnis di seluruh dunia.

Forum B20 ini akan mempertemukan pemimpin bisnis perusahaan multinasional, organisasi dan komunitas bisnis dari seluruh negara anggota G20 yang akan memberikan rumusan dan masukan mengenai pemulihan ekonomi di masa pandemi.

Forum B20 ini, mengambil tema Kemajuan Inovatif, Inklusif dan Pertumbuhan Kolaboratif yang sejalan dengan G20. Menurut Arsjad Rasjid Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia yang juga menjadi penanggung jawab B20, dalam rilis yang disampaikan pada Selasa (16/1/20212) ada tiga isu prioritas yang akan diangkat yakni Global Health Architecture, Digital Transformation dan Energi Transition.

Shinta Widjaja Kamdani, CEO dari perusahaan investment holding nasional Sintesa Group, yang resmi ditunjuk sebagai B20 Indonesia Chair atau Ketua B20 Indonesia sejak Oktober tahun lalu berharap Forum B20 ini akan mendorong kebijakan yang lebih pro investasi sehingga bisa mempromosikan Indonesia sebagai negara tujuan investasi sekaligus memperlihatkan peluang-peluang investasi di Indonesia.

Forum dialog ini juga akan mempertemukan perusahaan papan atas yang punya kredibilitas tinggi untuk mengajak pelaku bisnis lokal, UMKM agar berkontribusi, meningkatkan kapasitas serta peluang mereka untuk naik kelas dan terlibat dalam ekosistem bisnis global.

  1. Tentang Isu Pemberdayaan Perempuan di G20

Pemberdayaan perempuan juga menjadi salah satu isu yang dibahas dalam G20. Rendahnya keterwakilan perempuan dalam ekonomi global dan kepemimpinan bisnis merupakan permasalahan yang rumit.

Padahal faktanya World Economic Forum (WEF) memperkirakan bahwa pemberdayaan perempuan dalam ekonomi global dapat menghasilkan pertambahan $28 triliun dalam pertumbuhan GDP dunia.

BACA JUGA :   Ketua DPD RI Minta Pelatihan Active Selling ke Pelaku UMKM Digencarkan

“Ini dimulai dari tidak meratanya pendidikan yang berkualitas bagi anak perempuan, ketidakseimbangan kesempatan dalam lapangan kerja, sampai kurangnya akses perempuan terhadap benefit dari ekonomi formal,” papar Shinta Kamdani.

“Padahal, bayangkan betapa besar potensi pertumbuhan ekonomi yang bisa kita capai kalau lebih banyak perempuan dapat berpartisipasi dalam ekonomi,” tambahnya.

Inklusivitas sendiri tengah menjadi isu yang mendapat perhatian secara global dan G20 pun turut mendorong pengembangan ini, termasuk melalui pemberdayaan perempuan untuk memaksimalkan potensi ekonomi global. Presidensial G20 Australia misalnya telah memulai komitmen “25×25” yakni mengurangi kesenjangan gender di pasar tenaga kerja partisipasi sebesar 25% pada 2025. Dilanjutkan oleh G20 dan B20 Italia beserta seluruh gugus tugasnya tahun lalu, yang menargetkan penciptaan lapangan pekerjaan yang lebih banyak, lebih baik, dan bergaji setara bagi perempuan.

Meneruskan tongat estafet tersebut, dalam Presidensi G20 Indonesia 2022 lewat forum B20 membentuk Women in Business Action Council di samping enam gugus tugas lainnya (Trade and Investment, Future of Work and Education, Finance & Infrastructure, Energy, Climate and Sustainability, Integrity and Compliance).

BACA JUGA :   Berkat PON Papua 2021, Ekonomi Merauke Menggeliat

Tak lain, demi tujuan B20 untuk menjadi katalisator meminimalisasi kesenjangan gender, dengan menghasilkan rekomendasi kebijakan yang memfasilitasi lebih banyak perempuan untuk memimpin dan berpartisipasi dalam sektor ekonomi.

“Prioritas strategis kami, yaitu mendorong pertumbuhan berkelanjutan yang kolaboratif, inovatif dan inklusif, akan dilakukan melalui penguatan ketahanan women-led businesses dan mempercepat dukungan infrastruktur bagi pengusaha perempuan dan UMKM,” ujar Shinta, seperti disampaikan pada akhir tahun lalu.

“Upaya ini dilakukan juga melalui peningkatan kemampuan digital tenaga kerja perempuan, memperkuat dasar untuk kepemimpinan dan partisipasi tenaga kerja yang adil, hingga memberantas kekerasan berbasis gender di tempat kerja,” kata Shinta.

Hasil akhirnya adalah menciptakan One Global Women Empowerment, yang mewadahi pemerintah, bisnis, dan pemangku kepentingan lainnya memfasilitasi dukungan demi mengangkat perempuan keluar dari kemiskinan.

Itulah fakta tentang Presidensi G20 Indonesia 2022. Untuk informasi hal lain seputar Presidensi G20 Indonesia 2022, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) melalui Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (Ditjen IKP) baru saja meluncurkan G20pedia.

G20pedia adalah buku elektronik berisi informasi dan tanya-jawab seputar G20 untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang Group of Twenty atau G20, khususnya Presidensi G20 Indonesia Tahun 2022. Menurut Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Usman Kansong G20pedia ini sifatnya living document atau dokumen hidup, sehingga memungkinan perubahan isi buku secara terus-menerus sesuai dinamika pelaksanaan agenda Presidensi G20.

G20pedia dapat diakses setiap saat melalui tautan https://linktr.ee/g20pedia. Selain G20pedia, pada tautan tersebut juga dapat diakses laman resmi G20 di www.g20.org. Tersedia dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

- Advertisement -spot_imgspot_img
Latest news
- Advertisement -spot_img
Related news
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here