Selasa, November 29, 2022

Hubungan Manis Indonesia dan Turki Ternyata Diawali Raja Jawa Raden Fatah

- Advertisement -spot_imgspot_img
- Advertisement -spot_imgspot_img

ANKARA, newsatu.com — ​“Hubungan bangsa Indonesia dan Turki telah terjalin pada Abad ke-15 ketika Raden Fatah, Raja Jawa pada masa itu, menerima pengakuan dari Kesultanan Ottoman. Manuskrip lain juga mengungkapkan bahwa pada Abad ke-16 bahwa Kesultanan Ottoman dan Kesultanan Aceh berperang bersama melawan invasi Portugis di Sumatera”.

Itulah sepenggal narasi video tayangan tentang Sejarah Hubungan Indonesia dan Turki yang diputar pada Resepsi Diplomatik dalam rangka memperingati HUT RI ke-77 di KBRI Ankara pada 14 September lalu.

Resepsi tersebut menghadirkan Tamu Kehormatan Menteri Industri dan Teknologi Turk, Mustafa Varank. Turut hadir pula Wakil Ketua DPR RI Rachmad Gobel, Ketua Asosiasi Kontraktor Pertahanan Ismail Demir dan Konjen RI Istanbul.

BACA JUGA :   151 Nakes Siap Diterjunkan Kemenkes di 28 Puskesmas Bertatus Terpencil dan Sangat Terpencil

“Turki dan Indonesia, tidak hanya kawan, tapi adalah saudara. Setiap saya mengetuk pintu, saya selalu disambut hangat, dan senantiasa dibantu, bahkan sebelum saya meminta bantuan,” ungkap Duta Besar RI untuk Turki Lalu Muhamad Iqbal menjelaskan kedekatan hubungan kedua bangsa.

BACA JUGA :   Gandeng Asproksi Jateng, Eisa Global Gelar Kajian Ilmu Kehidupan

Rachmad Gobel yang juga menyampaikan sambutan menggarisbawahi pentingnya diplomasi dalam berbagai track, salah satunya diplomasi parlemen.

Sementara itu,  Mustafa Varank menyampaikan ucapan selamat atas kemerdekaan Indonesia, dan salam Presiden Erdogan kepada Pemerintah dan rakyat Indonesia.

BACA JUGA :   Program Bakti Kadin Bantu Dorong UMKM Kabupaten Bogor Tembus Pasar Internasional

Lebih lanjut dalam video Sejarah Hubungan kedua negara, disebutkan tentang hubungan formal Indonesia dan Turki yang dibentuk pada 1950. Pada April 1959, Presiden pertama RI, Ir. Sukarno, melakukan kunjungan ke Turki dan diterima oleh Perdana Menteri Adnan Menderes.

Presiden Habibie yang berteman akrab dengan Necmettin Erbakan saat kuliah bersama di Aachen, Jerman, bersama-sama dengan mantan Perdana Menteri Turki tersebut memprakarsai pendirian D-8 pada Juni 1997, kelompok 8 (delapan) negara berkembang Muslim beranggotakan Bangladesh, Mesir, Indonesia, Iran, Malaysia, Nigeria, Pakistan dan Turki.

BACA JUGA :   Kebijakan Ganjil-Genap Kembali ke Peraturan Gubernur DKI Jakarta

Hubungan kedua negara telah mencapai babak baru pada April 2011 saat penandatangan ‘the Joint Declaration Indonesia – Turkiye: Towards an Enhanced Partnership in a New World Setting’ di Jakarta oleh Presiden kedua negara saat itu.

BACA JUGA :   Wali Kota Bogor Titip agar Jemaah Haji Doakan Bogor Menjadi Kota Sejahtera

Deklarasi mencakup komitmen penguatan kerja sama politik, keamanan, kebudayaan, pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi termasuk industri strategis.

Kegiatan Resepsi Diplomatik ditutup dengan pertunjukan angklung lagu Turki ‘Memleketim’ (Tanah Airku) oleh Dharma Wanita Persatuan KBRI Ankara, tari Saman oleh Persatuan Pelajar Indonesia Afyonkarahisar dan tari Piring oleh penari Turki binaan KBRI Ankara, Swara Bhinneka. Kegiatan Resepsi dilaksanakan di Wisma Duta dan dihadiri oleh sekitar 500 orang undangan.***

- Advertisement -spot_imgspot_img
Latest news
- Advertisement -spot_img
Related news
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here