Jumat, Februari 3, 2023

Ini Cara Cerdik Cegah Stroke dan Penanganannya

- Advertisement -spot_imgspot_img
- Advertisement -spot_imgspot_img

JAKARTA, newsatu.com — Saat ini banyak penyakit yang perlu diwaspadai masyarakat, salah satunya adalah serangan stroke. Stroke merupakan penyebab disabilitas atau kecacatan nomor satu dan penyebab kematian nomor dua di dunia setelah penyakit jantung iskemik baik di negara maju maupun di negara berkembang.

Bersumber dari situs Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya, stroke adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak.

Suplai darah yang berhenti ini disebabkan adanya gangguan pembuluh darah otak yaitu gangguan peredaran darah otak non traumatik.

Ira Purnamasari, dosen Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) UM Surabaya, menyebutkan bahwa stroke bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja, dan harus ditangani secara cepat dan tepat.

Menurutnya, ada beberapa faktor risiko stroke yaitu hipertensi (sebagai faktor risiko utama), penyakit kardiovaskuler (gangguan jantung), kolesterol tinggi, obesitas, diabetes, merokok, konsumsi alkohol, dan penyalahgunaan obat.

BACA JUGA :   Asproksi Siapkan Alkes Berkualitas untuk Cegah Sebaran Omicron

GEJALA STROKE YANG WAJIB DIWASPADAI

Ira menjelaskan, gejala stroke dapat dikenali dengan enam hal dan perlu diketahui sejak dini, yakni:

  1. Senyum tidak simetris (mencong ke satu sisi), tersedak, sulit menelan air minum secara tiba-tiba.
  2. Gerak separuh anggota tubuh melemah tiba-tiba.
  3. Bicara pelo atau tiba-tiba tidak dapat bicara atau tidak mengerti kata-kata atau bicara tidak nyambung.
  4. Kebas atau baal atau kesemutan separuh tubuh.
  5. Rabun atau pandangan atau mata kabur tiba-tiba.
  6. Sakit kepala hebat yang muncul tiba-tiba dan tidak pernah dirasakan sebelumnya, atau terjadinya gangguan fungsi keseimbangan, seperti terasa berputar, gerakan sulit dikoordinasi.
BACA JUGA :   Ini Penjelasan Mengapa Tes PCR Bisa Rp275 Ribu

PERIODE EMAS PENANGANAN STROKE

Konsep utama dalam penanganan stroke adalah memberikan pengobatan yang spesifik dalam waktu sesegera mungkin sejak serangan terjadi.

“Periode emas adalah waktu yang sangat berharga untuk penanganan stroke yaitu kurang dari 4,5 jam sejak pertama kali muncul tanda dan gejala sampai dilakukan penanganan stroke di rumah sakit,” jelas Ira Senin (2/1), dilansir kontan.co.id dari dari situs UM Surabaya.

BACA JUGA :   Menkes Budi Gunadi: ‘Meskipun Kasus Covid-19 Turun, Rakyat Tetap Wajib Prokes’

Ia menegaskan, penderita harus sudah tiba di rumah sakit kurang dari 2 jam, dan proses pemeriksaan sampai pengobatan membutuhkan waktu maksimal 2,5 jam.

Apabila terlambat penanganannya atau sudah lebih dari 4,5 jam, maka stroke akan menjadi parah bahkan berisiko kematian atau kecacatan permanen.

BACA JUGA :   Kemenkes Dorong Pemda Kejar Target Imunisasi 79,1%

CARA CEGAH STROKE

Lebih lanjut Ira juga membagikan cara pencegahan stroke dengan perilaku cerdik, yang di antaranya sebagai berikut.

  1. Cek kesehatan secara rutin. Center for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan untuk melakukan medical check up setahun sekali.
  2. Enyahkan asap rokok. Pembuluh darah koroner jantung yang terpapar asap rokok dapat mengakibatkan arterosklerosis yakni rusaknya sel endotel pembuluh darah yang mengakibatkan tumpukan kolesterol atau lemak mengeras dan menempel di pembuluh darah, sehingga aliran darah terganggu, tersumbat atau menyempit.
  3. Rajin beraktivitas fisik. Aktivitas fisik dibagi menjadi dua yaitu aktivitas kehidupan sehari-hari dan aktivitas latihan/olahraga. Manfaat dari aktivitas fisik ini adalah menjaga berat badan ideal, mencegah penyakit jantung dan diabetes, serta meningkatkan fungsi jantung, paru-paru, dan otot.
  4. Diet seimbang. Mengkonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat, lemak, protein, serat, vitamin, dan mineral, juga membatasi konsumsi gula, membatasi konsumsi garam, dan membatasi makanan berlemak.
  5. Istirahat cukup. Usia 18-40 tahun dianjurkan untuk tidur 7-8 jam/hari. Jika kurang dari dari itu, maka mengakibatkan tingginya tekanan darah yang berisiko terhadap stroke dan penyakit jantung.
  6. Kelola stress. “Mengelola stress bisa dilakukan dengan cara membicarakan keluhan dengan orang terdekat, melakukan kegiatan sesuai minat, beribadah, berpikir positif, dan melakukan relaksasi,” tandas Ira.***
BACA JUGA :   10.292 Puskesmas Disiagakan untuk Antisipasi Pemudik yang Butuh Pertolongan
- Advertisement -spot_imgspot_img
Latest news
- Advertisement -spot_img
Related news
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here