NEWSATU.COM – Sehebat-hebatnya karier seseorang, pada Akhirnya dia takkan bisa melawan waktu. Ya, waktu dalam dunia olahraga selalu menjadi musuh tak terkalahkan bagi para atlet elit. Tidak ada satu orang pun yang mampu mempertahankan kecepatan yang sama seperti saat mereka masih berusia 20-an.
Dunia tinju membawa aksioma tersebut ke tingkatan yang jauh lebih ekstrem. Tidak hanya penuaan alami yang mengikis refleks dan kecepatan, tetapi efek benturan dari pukulan yang diterima juga memberikan dampak besar.
Secara alamiah, tinju bukanlah olahraga untuk orang tua, kecuali jika Anda adalah Bernard Hopkins atau George Foreman di era 1990-an—yang merupakan sebuah pengecualian langka.
Canelo Alvarez baru saja menginjak usia 36 tahun pada 18 Juli. Meski 36 tahun tampaknya belum terlalu tua, jumlah ronde yang telah dilalui calon penghuni Hall of Fame ini sungguh menakjubkan. Petinju kelahiran Guadalajara tersebut telah melewati lebih dari 500 ronde di atas ring.
Meski demikian, ia masih akan bertarung menghadapi Christian Mbilli demi memperebutkan gelar juara dunia kelas menengah super WBC.
Dalam sesi wawancara mendalam bersama Ariel Helwani, Canelo mengakui bahwa ia sudah bisa melihat akhir kariernya makin mendekat.
Canelo Ungkap Sisa Pertarungan yang Dimilikinya
“Mungkin tinggal tiga atau empat pertarungan lagi untuk saya, karena saya juga memiliki tujuan lain di luar dunia tinju,” ungkap Canelo.
Dengan jendela kesempatan yang sangat sempit tersebut, apakah Canelo akan mencoba menyapu bersih kelas menengah super?
Saat ini, divisi tersebut dihuni oleh Jaime Munguia—yang sudah ditaklukkan Alvarez pada 2024 lalu; Osleys Iglesias yang memegang sabuk versi IBF; serta Hamzah Sheeraz yang memegang gelar WBO.
Pertarungan-pertarungan ini mungkin tidak akan menarik minat penonton dalam jumlah raksasa atau menghasilkan bayaran fantastis, tetapi bisa menjadi catatan sejarah manis sebelum ia mengundurkan diri.
Bicara soal bayaran, Alvarez meluruskan motivasinya yang kini sudah melampaui urusan uang belaka.
“Saya tidak membutuhkan apa-apa lagi… Saya telah mencapai segalanya di dunia tinju, dan secara finansial saya sudah sangat berkecukupan,” katanya.
“Namun, saya masih mencintai tinju. Setiap kali bertarung, saya memecahkan rekor, dan itulah motivasi saya. Anda membutuhkan sesuatu dalam hidup untuk menjaga pikiran tetap sibuk dan termotivasi. Saat ini, motivasi saya adalah tinju.”
Pilihan Akhir Karier: Aman atau Spektakuler?
Jika Alvarez memilih untuk tidak mendominasi kembali divisi kelas menengah super, bergeser naik atau turun kelas bisa menjadi pilihan.
Sebagai contoh, juara kelas menengah WBC Carlos Adames dapat memberikan tantangan menarik bagi sang veteran melalui gaya bertarung terbuka di tengah ring. Pada dasarnya, Alvarez bisa memilih untuk mengakhiri kariernya secara aman atau dengan cara yang penuh ledakan dan menegangkan.
Di tengah pembicaraan mengenai akhir kariernya, Canelo akan terlebih dahulu berhadapan dengan Mbilli, seorang petinju yang selalu memaksakan tempo tinggi. Bagi Mbilli, selain mempertahankan sabuk juaranya, kesempatan untuk menumbangkan petinju terhebat lintas generasi akan menjadi motivasi terbesarnya.
Seiring karier Canelo Alvarez yang tampak bakal berakhir dalam satu atau dua tahun ke depan, hal terbesar apa yang akan paling diingat publik dari dirinya?***








