NEWSATU.COM — Meski dikenal kuat dalam tradisi lisan, Kaum Betawi sejatinya memiliki rekam jejak panjang dalam tradisi tulisan. Sastrawan sekaligus jurnalis senior Ahmadun Yosi Herfanda dalam endorsement buku Kembang Goyang (Penerbit Padasan, 2011) mencatat bahwa karya para penulis berdarah Betawi dan Peranakan-Betawi terus bergerak di kancah nasional dalam kesederhanaan aroma tanah kelahiran mereka.
Nama-nama dari masa lalu seperti Sapirin bin Usman al-Fadli, Muhammad Bakir, Ahmad Beramka, Abdullah bin Muhammad al-Misri, Ahmad Insab, Ahmed Mujarrab, Oom Piet, Tio Ie Soei, Kwee Kek Beng, Muhammad Balfas, SM Ardan, Firman Muntaco, hingga N. Susy Aminah Aziz merupakan fondasi penting sejarah kesusastraan Betawi dan Indonesia.
Tradisi tulisan ini terus berlanjut hingga generasi terkini seperti Aba Mardjani, Zeffry J. Alkatiri, dan Chairil Gibran Ramadhan. Penegasan sejarah ini menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan sastra nasional.
Namun seiring perkembangan zaman, etnis Betawi justru lebih melekat dengan tradisi lisan semata. Publik lebih mengenal teater tradisional, pantun palang pintu, lagu gambang kromong, serta seni hiburan keriaan.
Sementara itu, tradisi tulisan hadir secara sunyi melalui pejuang-pejuang mandiri tanpa dukungan penuh dari pemerintah maupun lembaga kebetawian. Situasi ini memicu persepsi keliru yang menempatkan Kaum Betawi seolah hanya berkutat pada seni tari, silat, humor, kuliner, atau bahkan stigma fisik semata.
Merespons penggambaran tersebut, Betawi Institute mencanangkan gerakan “Bela Betawi Liwat Literasi” dalam rangka memperingati Bulan Bahasa pada Oktober 2026.

Sebagai bukti konkret, gerakan ini memfasilitasi penerbitan lima buku bertema sejarah, sastra, dan budaya Betawi, Batavia, serta Jakarta untuk menyambut peringatan “Lima Abad Jakarta” pada tahun 2027 mendatang. Langkah ini diambil untuk membuktikan bahwa Kaum Betawi tidak pernah jauh dari dunia literasi.
“Bela Betawi juga artinya membela harkat dan martabat Betawi melalui literasi dan pendokumentasian dalam bentuk buku. Literasi jangan diartikan secara dangkal sebatas pembacaan puisi di panggung acara,” tegas Chairil Gibran Ramadhan (CGR), pendiri Betawi Institute dan Poestaka Betawi.
CGR menekankan pentingnya mengenal sejarah dan budaya Betawi, Batavia, serta Jakarta melalui tulisan. Dokumentasi buku memiliki daya tahan melintasi zaman, sesuai pepatah Scripta manent, verba volant (tulisan menetap, lisan terbang melayang).
Kelima buku yang disiapkan tersebut diharapkan dapat menjadi koleksi perpustakaan kampus, instansi pemerintah, komunitas baca, hingga kedutaan besar di Tanah Betawi.
Adapun kelima judul tersebut meliputi: Seribu Tokoh Betawi: Jakarta dan Sekenanya (ISBN: 978-602-17963-8-2), Hikayat Pesastra: Jakarta dan Sekenanya (ISBN: 978-602-17963-7-5), Bang Jali Kondangan: Setangkle Sketsa Humor Betawi karya Aba Mardjani (ISBN: 978-602-19280-4-2), Keadjaiban di Pasar Senen: Sekumpulan Ceritera di Jakarta 1950-1960 karya Misbach Yusa Biran (ISBN: 978-602-1244-01-2), serta Dajoeng Sampan Dibawah Boelan karya Chairil Gibran Ramadhan.
CGR menyayangkan sepanjang 500 tahun perjalanan Kota Jakarta, belum banyak tokoh Betawi yang secara konsisten menjadikan gerakan literasi sebagai wadah perjuangan untuk membangun citra Betawi yang intelek dan elegan.
“Kebanyakan tujuannya adalah menjadi ketua ormas atau terjun ke dunia politik. Belum ada yang berfokus penuh menjadi fasilitator gerakan literasi,” ungkap CGR.
Ia berharap ada figur Betawi yang tergerak memfasilitasi dunia literasi layaknya Richard Oh dengan Khatulistiwa Literary Award atau Denny JA yang aktif mendukung penerbitan buku, sayembara penulisan, serta pemberian penghargaan bagi para penulis.
Inisiatif untuk menggalang dukungan dari berbagai pihak dan tokoh politik berdarah Betawi sejauh ini belum membuah hasil. Sejumlah nama dan tokoh lintas partai serta organisasi seperti Riano Purwonegoro (Ketum Bamus Betawi/Nasdem), Nuroji dan Setyoko (Gerindra), Firman Subagio (Golkar), Fahira Idris (Anggota DPD RI asal DKI Jakarta), hingga kalangan akademisi di Betawi Academia belum memberikan tanggapan atas ajakan gerakan ini.
Begitu pula komunikasi ke pihak Rano Karno selaku Wagub DKI Jakarta yang masih menemui kendala akses.***








