Selasa, Mei 17, 2022

Pers Kampus Harus Bisa Jadi Ladang Pengaderan Wartawan Profesional

- Advertisement -spot_imgspot_img
- Advertisement -spot_imgspot_img

JAKARTA, NEWSATU.COM — Pers kampus harus tetap berjalan. Apa pun kondisinya, bagaimanapun besarnya kendala dan tantangan yang menghadang, pers kampus akan tetap ada.

Demikian benang merah kesimpulan dari diskusi Forum PWI Jaya Series, ‘Tantangan Pers Kampus Bertahan di Tengah Kepayahan Pandemi Covid-19 &  Disrupsi Media Sosial’, Selasa (28/9/2021) siang.

Diskusi dilaksanakan secara hybrid, sebagian melalui zoom-meeting, sementara para pemateri dan belasan peserta hadir langsung di Sekretariat PWI Jaya.

Diskusi yang dipandu oleh Elly Simanjuntak, jurnalis senior yang juga praktisi media, menghadirkan tiga pemateri. Yakni, Dr Geofakta Razali, Public Relations, Marcom Specialist Privy ID, Pengajar & Pengamat Komunikasi Milenials, serta Trisna Prandawa Putra, News Section Head Binus (Pengelola Pers Kampus), dan Algooth Putranto,  Alumnus Persma Akademika Universitas Udayana, Pengamat dan Praktisi Media.

BACA JUGA :   Tutup Pameran Bali Bangkit V, Ny. Putri Koster Terharu pada Geliat UKM/IMKM
BACA JUGA :   49% Rakyat Indonesia Sudah Mendapatkan Vaksin Lengkap

Para pemateri sependapat, persma seharusnya menjadi pilar media demokrasi. Kemajuan teknologi, yang mengakibatkan disrupsi digital, ditingkahi melesatnya media sosial, menjadikan persma semakin ‘megap-megap’. Kehidupan persma, secara umum, dapat diidentikkan dengan pers pada umumnya, konvensional dan main-stream (arus utama).

Serupa dengan pelaku pers pada umumnya, pengelola persma juga harus bijak menyikapi perubahan besar yang sudah dan akan terus terjadi, khususnya bagaimana menanggapi media sosial.

BACA JUGA :   Rumah Tahfizh Al-Jihadi Kampung Perigi, Dibangun atas Usul Ibu-Ibu

Dari posisi persma sebagai pers alternatif, persma dapat mengisi kekurangan dan pengaderan pers profesional. Tak hanya itu, persma juga menjadi tempat berlatih sebelum memasuki dunia profesional.

Disadari, persma juga banyak memiliki kelemahan. Di antaranya,  masih berorientasi pada cetak. Juga,  pengaderan yang tidak sistematis, serta pengelolaan yang tak serius. Hal ini berujung sebagai ancaman bagi persma. Banyak persma terjerat hukum dan mendapat kekerasan. Intervensi pimpinan kampus untuk isu internal masih kerap terjadi.

BACA JUGA :   49% Rakyat Indonesia Sudah Mendapatkan Vaksin Lengkap
BACA JUGA :   Kemendikbudristek Libatkan UMKM dan Satuan Pendidikan Berpartisipasi dalam Gernas BBI

Fakta bahwa persma dikelola oleh anak muda menjadi sebuah kelebihan. Persma memiliki orang-orang yang mau belajar. Dengan demikian bisa diharapkan adanya ‘mahasiswa wartawan’ yang lebih berintegritas dan tidak berorientasi pada penghasilan.

Diskusi diakhiri dengan pemberian plakat kepada para pemateri oleh Ketua PWI Jaya Sayid Iskandarsyah.

- Advertisement -spot_imgspot_img
Latest news
- Advertisement -spot_img
Related news
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here