Senin, Mei 16, 2022

Vaksin Booster Tidak Diberikan Gratis, Ini Prakiraan Harganya

- Advertisement -spot_imgspot_img
- Advertisement -spot_imgspot_img

JAKARTA, newsatu.com — Pemberian vaksin ketiga sebagai booster rencananya akan dimulai pada Januari 2022. Menkes Budi Gunadi Sadikin mengatakan penyuntikkan dosis ketiga baru akan dilakukan ketika 50 persen populasi penduduk Indonesia sudah divaksin dua dosis.

Pemenuhan dua dosis vaksin kepada separuh populasi ditargetkan selesai pada Desember 2021.

“Semua negara yang memulai booster itu dilakukan sesudah 50 persen penduduknya disuntik dua kali. Dan kita perkirakan ini akan terjadi di bulan Desember,” kata Budi Gunadi dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR, Senin (8/11).

Vaksin dosis ketiga atau booster yang hendak disuntikkan tidak gratis seperti dosis pertama atau kedua. Jadi, orang yang hendak mendapatkan booster harus membayar.

“Rencananya ke depan sudah bicarakan dengan Bapak Presiden adalah ini pertama prioritasnya lansia dulu, karena lansia tetap yang berisiko tinggi. Kedua, baru yang akan ditanggung (biayanya) oleh negara adalah yang peserta PBI,” jelas Budi.

BACA JUGA :   Program Bakti Kadin Bantu Dorong UMKM Kabupaten Bogor Tembus Pasar Internasional
BACA JUGA :   Kemenkes Bakal Genjot 6 Pilar Transformasi Sistem Kesehatan Hingga 2024

Masyarakat Penerima Bantuan Iuran (PBI) BPJS Kesehatan adalah mereka yang pemberian vaksin boosternya ditanggung oleh pemerintah. Di luar lansia dan penerima PBI, diharuskan membayar.

Sejauh ini, Indonesia menggunakan beberapa jenis vaksin, antara lain Sinovac, Sinopharm, AstraZeneca, Moderna, dan Pfizer. Melansir data dari UNICEF, berikut perkiraan harga vaksin saat masyarakat harus membelinya:

  1. Sinovac

UNICEF melaporkan harga untuk Sinovac di Indonesia adalah US$ 13,6 atau setara dengan Rp 193 ribu (asumsi Rp 14.253/US$). Harga Sinovac ini beragam di setiap negara, tercatat Brasil, Filipina, hingga Ukraina harganya US$ 10 sampai US$ 18 atau senilai dengan Rp 142 ribu hingga Rp 255 ribu.

  1. Sinopharm
BACA JUGA :   Dinkes DKI Jakarta Ingatkan Prokes Warga Jakarta Jangan Kendur

Argentina, Cina, Hongaria, hingga Kazakhstan merupakan sejumlah negara yang menggunakan vaksin Sinopharm. UNICEF melaporkan harga di setiap negara tersebut bervariasi, mulai dari termurah di Argentina seharga US$ 9 atau Rp 127 ribu, hingga paling mahal di Hongaria US$ 36 atau Rp 511 ribu per dosis.

Sementara di Indonesia, Sinopharm sudah dipakai untuk program Vaksin Gotong Royong. Pemerintah telah menetapkan harga vaksin Sinopharm Rp. 321.660 per dosis.

  1. AstraZeneca
BACA JUGA :   Kasus Covid-19, Data per 31 Desember, 193 Orang Sembuh per Hari

Berdasarkan laporan UNICEF, vaksin AstraZeneca digunakan di Uni Eropa, Amerika Serikat, Kolombia, Brasil, hingga India. Harga berkisar US$ 2,19 hingga US$ 4.

  1. Moderna
BACA JUGA :   Indonesia Gelar Promosi Ekonomi, Budaya & Kuliner Indonesia di Pattani, Thailand Selatan

Vaksin Moderna digunakan di Amerika Serikat, Uni Eropa, hingga Argentina. Di AS, Moderna dijual dengan harga US$ 15 atau setara dengan Rp 213 ribu. Uni Eropa menetapkan harga sebesar US$ 18 atau senilai Rp 255 ribu. Sementara di Argentina US$ 21,5 atau seharga Rp 305 ribu.

  1. Pfizer

Laporan UNICEF memaparkan vaksin Pfizer digunakan di Afrika Selatan, Uni Eropa, hingga Amerika Serikat. Harga Pfizer paling mahal diterapkan Uni Eropa seharga US$ 23,15 atau Rp 329 ribu per dosis. Di Amerika Serikat, Pfizer dibanderol seharga US$ 19,5 atau senilai dengan Rp 277 ribu.

Sementara paling murah di Afrika Selatan dengan harga US$ 10 atau Rp 142 ribu per dosis.

- Advertisement -spot_imgspot_img
Latest news
- Advertisement -spot_img
Related news
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here