NEWSATU.COM – Petenis nomor satu dunia, Aryna Sabalenka, akan menyajikan energi yang ekspresif di final Australian Open 2026, Sabtu (31/1) ini, sementara unggulan kelima Elena Rybakina akan menawarkan ketenangan klinis dari sisi net yang lain. Namun, satu hal yang pasti dibawa oleh kedua pemain adalah kekuatan pukulan yang eksplosif.
Mengingat keduanya adalah pemukul bola terkuat di WTA Tour—dan sangat mematikan dalam servis mereka—akan sangat menarik untuk melihat siapa yang permainannya akan runtuh lebih dulu dalam kontes yang diprediksi akan berlangsung sangat intens ini.
BBC Sport mengulas peta kekuatan masing-masing pemain sebelum mereka bertemu di Rod Laver Arena.
Alasan Mengapa Sabalenka Bisa Menang
Sabalenka telah memenangkan dua dari empat gelar tunggal Grand Slam-nya di Melbourne, dan dengan silsilah tersebut, ia menjadi favorit untuk kembali menang.
Petenis Belarusia berusia 27 tahun ini berkembang pesat di lapangan keras Australia, menggunakan permukaan lapangan yang lebih cepat untuk menembus pertahanan pemain yang paling kokoh sekalipun.
Cara Sabalenka memukul bola hingga menyingkirkan Elina Svitolina dari Ukraina di semifinal adalah buktinya. Namun, menaklukkan Rybakina mungkin membutuhkan pendekatan yang lebih halus. Sabalenka kini fokus pada variasi permainannya—lebih sering maju ke net dan menunjukkan kelembutan pukulan.
“Tembakannya berat, dalam, dan datar. Tidak mudah untuk mengatasinya,” kata Sabalenka tentang lawannya.
Sabalenka telah menemukan solusinya, setelah memenangkan 8 dari 14 pertemuan sebelumnya—termasuk final Australian Open 2023. Namun, ia kalah saat terakhir kali mereka bertemu di final WTA Finals November lalu.
Sabalenka kini mencapai final major lapangan keras ketujuhnya secara berturut-turut, menyamai rekor Steffi Graf dan Martina Hingis.
Alasan Mengapa Rybakina Bisa Menang
Rybakina—yang kepribadiannya bersahaja—sering kali luput dari radar. Namun, petenis Kazakhstan berusia 26 tahun ini telah mengingatkan semua orang akan kemampuannya sepanjang dua pekan ini.
Kemenangan di Wimbledon 2022 menunjukkan betapa tingginya level permainannya, meski ia sempat kesulitan mencapai puncak yang sama sejak saat itu.
Sabtu nanti akan menjadi final Grand Slam pertamanya sejak kalah dari Sabalenka di sini tiga tahun lalu. Berbeda dengan Sabalenka yang sangat konsisten, Rybakina terkadang naik-turun, namun kini ia kembali jadi sorotan.
“Servis saya sering kali tidak bekerja sesuai keinginan, jadi Anda harus siap dengan aspek permainan lainnya,” ujar Rybakina.
Meski ragu dengan servisnya, Rybakina tetap memenangkan 86% service game-nya—tertinggi di turnamen ini, tepat di atas Sabalenka (84%). Ia juga telah mencatatkan 41 ace, terbanyak di antara pemain putri lainnya.
Rybakina adalah petarung unggul; ia memenangkan 23 pertandingan terakhirnya setelah memenangkan set pertama. Menghadapi Sabalenka, memulai laga dengan agresif akan menjadi kunci utamanya.







