NEWSATU.COM – Juara Dunia Kelas Welter WBA, Rolando ‘Rolly’ Romero, kini tengah untuk pertarungan mempertahankan gelarnya melawan mantan juara dunia di dua kelas, Teofimo Lopez Jr.
Ia mengungkapkan betapa krusialnya pertarungan perebutan gelar dunia yang akan berlangsung pada Sabtu, 22 Agustus tersebut, sebagai partai utama ajang PBC Pay-Per-View (tersedia di DAZN dan Prime Video) dari T-Mobile Arena, Las Vegas.
Meski Romero mengakui hubungan persahabatannya dengan Lopez—termasuk kenangan beberapa kali menjadi lawan sparring—ia menegaskan bahwa keakraban itu tak akan memengaruhi hasil saat mereka beradu jotos di bawah sorotan lampu arena.
“Ya, kami berteman dan saling mengenal keluarga masing-masing, tetapi semua itu tidak ada artinya pada 22 Agustus nanti,” ujar Romero. “Saya ingin menjadi anggota Hall of Fame, begitu juga Teofimo. Satu-satunya cara untuk mencapai itu adalah dengan saling mengalahkanm” ungkapnya, dilansir fightnews.com.
“Itulah yang salah dengan dunia tinju saat ini. Semua orang ingin berteman, tapi takut bertarung satu sama lain dan malah lupa alasan awal kita terjun ke olahraga ini. Alasan kita di sini adalah untuk menjadi legenda dan salah satu yang terbaik di generasi kita.”
Petinju asli Las Vegas ini telah mengukir prestasi dan merebut gelar di kelas ringan, ringan super, dan welter, mencapai puncak olahraga ini hanya dalam 15 pertarungan profesional saat menantang superstar kelas ringan, Gervonta Davis, dalam laga super fight tahun 2022.
Meski harus menelan kekalahan dari Davis, petinju berusia 30 tahun tersebut terus menambah koleksi prestasinya dengan menjadi juara dunia kelas ringan super usai menang TKO ronde kesembilan atas Ismael Barroso pada 2023.
Setelah kehilangan gelar dari superstar Meksiko, Isaac Cruz pada 2024, ia bangkit ke jalur kemenangan di tahun yang sama saat menghadapi Manuel Jaimes, sebelum akhirnya naik ke kelas kelas welter.
Kembali dihadapkan dengan sesama bintang di generasinya, Romero menciptakan kejutan besar dengan menjatuhkan Ryan Garcia di ronde kedua dalam perjalanannya meraih kemenangan angka mutlak sekaligus mengamankan sabuk WBA.
Menjelang pertarungan penentu kariernya ini, Romero memberikan kredit besar kepada pelatihnya, Ismael Salas yang legendaris, yang merancang strategi bertarung untuk meredam total ledakan pukulan mematikan milik Garcia.
“Bagi saya, Salas adalah pelatih terbaik sepanjang masa,” tutur Romero, yang telah didampingi Salas di sudut ring dalam tiga pertarungan terakhirnya.
“Siapa pelatih yang pernah memenangkan gelar dunia dengan petinju lebih banyak dari Salas? Dia tidak pernah mendapatkan penghargaan yang layak saat orang-orang membicarakan Trainer of the Year.”
“Kami selalu memiliki kemistri yang sangat cocok, seperti roti dengan selai. Salas tahu persis cara melatih saya dan apa yang perlu kami asah untuk meraih kemenangan. Pada 22 Agustus, kami akan membuktikan kepada semua orang mengapa tidak ada yang boleh meragukan kami lagi.”
Di kubu lawan, Lopez menyuguhkan pengalaman tanding yang tak kalah mentereng dalam laga-laga besar.
Ia pernah terlibat duel krusial melawan Shakur Stevenson, Vasily Lomachenko, dan Josh Taylor sepanjang kiprahnya di kelas ringan dan ringan super. Dengan silsilah bertarung tingkat tinggi serta gaya bertanding yang disukai penonton dari kedua belah pihak, Romero yakin 22 Agustus akan menjadi malam yang tak terlupakan bagi era tinju saat ini.
“Ini akan menjadi pertarungan yang penuh aksi dan berkelas Fight of the Year,” tegas Romero.
“Saya dan Teo selalu menyajikan pertarungan yang menghibur. Kami adalah petinju paling menghibur di dunia, dan pastinya promotor mandiri terbaik di dunia. Tidak ada yang bisa menyebut kami petinju lari-lari atau membosankan seperti beberapa petinju lain yang selalu kalian puji-puji itu.”
“Kami tidak lari, kami suka memukul. Dan itulah yang bisa kalian harapkan pada 22 Agustus: pertarungan terbesar tahun ini dari petinju paling menghibur di jagat raya.”***








