NEWSATU.COM – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah NTT. Hingga kini dilaporkan belasan warga tewas, ribuan orang mengungsi, dan puluhan bangunan rusak.Petugas masih melakukan pendataan dan evakuasi korban di lokasi terdampak.
Gempa bumi dengan kekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8) pagi WIB. Berdasarkan pemutakhiran informasi, pusat gempa berada di laut pada kedalaman 15 kilometer, sekitar 38 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo.
Gempa dirasakan kuat di sejumlah wilayah NTT hingga Sulawesi Selatan. Kerasnya getaran bahkan membuat ruang tunggu Pelabuhan Laurentius Say Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), roboh.
Sejumlah penumpang yang menunggu kapal pun berhamburan menyelamatkan diri. Beberapa diantaranya bahkan ada yang jatuh tercebur ke laut. Pasca gempa utama, tercatat sedikitnya empat gempa susulan dengan magnitudo antara M5,5 hingga M6,2. Seluruh gempa susulan tersebut tidak berpotensi tsunami.
Berdasarkan pemutakhiran data hingga Sabtu (15/8) siang WIB, BNPB mencatat 14 orang meninggal dunia, 2 orang luka berat dan 11 orang luka ringan. Data tersebut masih bersifat sementara dan dapat berubah seiring proses verifikasi dan validasi oleh BPBD bersama unsur terkait.
Korban meninggal dunia sementara terdapat di Kabupaten Sikka sebanyak 3 orang, Kabupaten Manggarai 6 orang dan Kabupaten Manggarai Timur 5 orang. Selain korban jiwa, sekitar 2.000 warga terpaksa mengungsia.
Gempa juga mengakibatkan puluhan rumah warga rusak. Kerusakan juga menimpa 5 fasilitas kesehatan, 1 fasilitas pendidikan, 1 gudang Bulog, 3 fasilitas ibadah serta 6 kantor pemerintahan. BPBD di wilayah bersama unsur TNI, Polri, pemerintah daerah dan instansi terkait, terus melakukan pendataan korban dan kerusakan, pemantauan kondisi masyarakat serta penanganan kebutuhan warga terdampak.
BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh informasi yang belum dapat dipertanggungjawabkan. Masyarakat diminta menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat gempa karena masih terdapat potensi gempa susulan.
Masyarakat di wilayah pesisir juga diminta tetap mengikuti informasi resmi pemerintah dan BMKG. Meskipun peringatan dini tsunami telah berakhir, kewaspadaan tetap diperlukan terhadap potensi gempa susulan maupun bahaya lain akibat kerusakan bangunan.








