NEWSATU.COM — Carlos Alcaraz harus menelan kekalahan pahit di ajang Shanghai Masters usai menyerah dari Zizou Bergs dengan skor 7-5, 7-6 di babak ketiga, Senin (12/10).
Petenis asal Spanyol tersebut tampil di bawah performa terbaiknya. Ia kesulitan menemukan ritme permainan sepanjang laga dan gagal menunjukkan level permainan yang sebelumnya membawanya meraih gelar juara di Tokyo.
Usai tersingkir lebih awal, petenis peringkat tiga dunia itu menyoroti kondisi lapangan dan peralatan yang dinilainya sangat berbeda dibandingkan saat laga pembukanya melawan Juan Manuel Cerundolo.
Petenis berusia 23 tahun tersebut merasa sangat frustrasi dengan perubahan karakter bola yang menurutnya memengaruhi timing serta eksekusi pukulannya. Di sisi lain, Bergs patut mendapat apresiasi atas perjuangannya, terutama pada momen-momen krusial. Kendati demikian, Alcaraz menegaskan bahwa dirinya tidak pernah menemukan cara untuk beradaptasi dengan kondisi tersebut.
Alcaraz Pertanyakan Perubahan Kondisi Usai Tersingkir
Petenis Spanyol yang tengah mengejar gelar Shanghai Masters pertamanya itu merasakan perbedaan mencolok antara pertandingan pertamanya dan laga melawan Bergs yang hanya berselang dua hari.
Pria yang baru saja meraih tujuh gelar Major itu merasa bola melesat lebih cepat pada hari pertama. Sebaliknya, saat menghadapi petenis Belgia tersebut, bola terasa lebih berat dan lambat sehingga menyulitkannya membangun ritme permainan yang konsisten.
Carlos juga menggarisbawahi pantulan bola yang tidak terprediksi. Ia menjelaskan bahwa bola terkadang melambung tinggi dan di saat lain justru meluncur rendah. Ketidaktepatan itu membuatnya semakin ragu-ragu saat melepaskan pukulan.
Petenis favorit juara itu tampak kerepotan dari sisi forehand, melakukan terlalu banyak kesalahan sendiri, serta gagal memegang kendali permainan. Ia pun mengakui ketidakmampuannya beradaptasi sepanjang laga.
Atas insiden ini, Alcaraz menilai pihak penyelenggara turnamen harus memberikan perhatian serius, terutama ketika kondisi pertandingan berubah sangat drastis dalam waktu singkat. Di sisi lain, Bergs tampil ciamik dan memanfaatkan setiap peluang untuk mengamankan kemenangan terbesar sepanjang karirnya sekaligus melesat ke babak 16 besar.
Bergs Tampil Perkasa di Momen Penting
Bergs memanfaatkan servisnya secara efisien dengan membukukan service winner hingga 42 persen dari total poin. Meski servisnya sempat dipatahkan dua kali dari dua kesempatan yang didapat Alcaraz, Bergs membalasnya dengan tiga kali melakukan break.
Alcaraz tampak kewalahan pada rali-rali pendek dan gagal mengejar ketertinggalan meski sempat mendominasi pada rali-kali panjang. Petenis Belgia itu mengamankan set pertama lewat break di game-game akhir yang mendongkrak kepercayaannya.
Kedua pemain menyajikan duel servis yang solid pada sepuluh game awal set kedua. Bergs sempat melakukan break untuk unggul 6-5, tetapi gagal mengunci kemenangan saat memegang servis hingga Alcaraz berhasil membalas dan memaksakan tie-break.
Namun, petenis non-unggulan itu tampil lebih tenang dan menutup tie-break dengan keunggulan 7-4 untuk menyegel kemenangan sekaligus memulangkan sang favorit.
“Sensasi permainan hari ini dan hari pertama benar-benar berbeda. Sangat aneh rasanya melihat kondisi berubah begitu banyak hanya dalam dua hari. Pada hari pertama, saya merasa bolanya cepat, tetapi hari ini rasanya lebih besar dan agak lambat,” ungkap Carlos Alcaraz.
“Ini hal yang aneh dan pihak turnamen harus memperhatikan masalah ini. Perasaan saya, bola memantul berbeda setiap saat. Kadang memantul tinggi, kadang meluncur rendah. Saya tidak mampu beradaptasi sama sekali,” tegasnya.***








