NEWSATU.COM – Elena Rybakina memastikan dirinya menjadi petenis nomor satu dunia untuk kali pertama sepanjang kariernya usai menundukkan juara Olimpiade Zheng Qinwen demi mengamankan tiket semifinal US Open, Rabu (9/9).
Bintang Kazakhstan berusia 27 tahun itu bangkit dari ketinggalan untuk mengalahkan wakil Cina, Zheng, dengan skor 3-6, 6-1, 6-4 setelah bertarung selama dua jam 14 menit di Arthur Ashe Stadium. Hasil ini memastikannya menggeser Aryna Sabalenka dari Belarus di puncak peringkat WTA pekan depan.
“Saat ini itu cuma sebuah angka,” kata Rybakina usai pertandingan. “Tentu saja saya berhasil lolos ke semifinal. Ini adalah pencapaian yang luar biasa.”
“Saya masih ingin memenangkan gelar juara, jadi semua pikiran saya saat ini hanya tertuju pada pertandingan berikutnya.”
Rybakina melangkah ke semifinal, Kamis (10/9) untuk berhadapan dengan petenis peringkat empat dunia asal Amerika Serikat, Coco Gauff.
Pemilik dua gelar Grand Slam itu lolos usai menyelamatkan dua match point dalam kemenangan 2-6, 7-6 (9/7), 6-2 atas petenis Rusia berusia 19 tahun, Mirra Andreeva, yang merupakan petenis peringkat lima dunia sekaligus juara bertahan French Open.
“Elena adalah petenis nomor satu dunia yang baru,” ujar Gauff. “Ini jadi pertandingan yang sengit. Momen-momen seperti inilah yang membuat Anda bersemangat.”
Petenis nomor satu dunia saat ini, Sabalenka, dan petenis peringkat tiga dunia asal Amerika Serikat, Jessica Pegula, akan saling berhadapan di partai semifinal lainnya.
Rybakina memegang rekor pertemuan seimbang 1-1 melawan Gauff. Ia memenangkan semifinal bulan lalu di Kanada setelah Gauff memenangi satu-satunya pertemuan mereka lainnya di Kanada pada 2022.
Gauff sempat kesulitan di awal, meredam dua match point di sesi tie-break, lalu bangkit terinspirasi oleh aksi Frances Tiafoe yang membalikkan keadaan dari tertinggal dua set untuk mengalahkan sesama petenis AS, Alex Michelsen, dalam duel lima set yang dramatis pada Selasa (8/9).
“Saya cuma harus menata ulang fokus. Di awal pertandingan saya kurang bisa merasakan bola dan memberinya terlalu banyak poin cuma-cuma,” kata Gauff.
“Jujur saja, saya sempat teringat Frances Tiafoe dan bagaimana dia berhasil bangkit. Saya hanya berusaha keluar dari lapangan tanpa penyesalan.”
Keberhasilan Rybakina menjadi pemain Kazakhstan pertama yang menduduki peringkat satu dunia membuatnya menjadi wanita ke-30 dalam sejarah yang meraih posisi tertinggi tersebut.
“Ini adalah sesuatu yang sangat membanggakan saat Anda menengoknya kembali di akhir tahun,” kata Rybakina. “Berapa lama pun Anda bertahan di sana, ini adalah sebuah pencapaian dan saya sangat bangga.”
Rybakina, yang sebelumnya memiliki rekor 0-6 di US Open ketika kehilangan set pertama, mengincar gelar Grand Slam ketiganya setelah menjuarai Wimbledon pada tahun 2022 dan Australian Open tahun ini.
“Sulit untuk merangkai kata-kata. Ini pertandingan yang sulit… Saya tidak memulainya dengan baik, saya terlalu negatif,” ujar Rybakina, yang seluruh pertandingannya sebelum ini selalu dimainkan pada malam hari.
“Pertandingan ini digelar lebih pagi. Di dalam kepala, saya sempat mengeluhkan soal bayangan di lapangan… Saya senang bisa membuang semua pikiran negatif itu. Saya cuma terus berkata pada diri sendiri: ‘Teruslah berjuang’.”
Rybakina, yang merupakan unggulan kedua, adalah satu dari empat petenis putri yang berpeluang meninggalkan Flushing Meadows sebagai nomor satu dunia. Kemenangannya pun sekaligus menutup peluang Sabalenka, Gauff, dan Pegula untuk merebut posisi tersebut.
Sementara itu, sang juara bertahan Olimpiade, Zheng (23 tahun), harus merelakan mimpinya menembus semifinal US Open pertamanya. Ia menelan kekalahan di Australian Open 2024 dalam satu-satunya penampilan final Grand Slam sejauh ini.
“Mungkin saat dia melakukan servis kedua, saya seharusnya bisa bermain lebih agresif di beberapa momen dan meminimalisasi kesalahan saat melakukan return,” kata Zheng. “Hari ini hanya ditentukan beberapa poin saja.”
Rybakina, yang tampil tanpa menunjukkan sisa-sisa cedera kaki yang sempat mengganggu persiapannya menjelang US Open, memperbaiki rekor pertemuan keseluruhannya atas Zheng menjadi 5-1 lewat kemenangan ketiganya atas petenis Cina itu tahun ini.
Zheng, yang menempati peringkat 121 dunia usai absen sekitar delapan bulan akibat operasi siku, harus berjuang lewat babak kualifikasi dan memenangkan tujuh pertandingan di New York, sebuah catatan yang memastikannya menembus peringkat 60 besar pekan depan.
“Saya punya banyak peluang di set ketiga, tapi saya tidak memanfaatkannya,” kata Zheng. “Sedikit disayangkan harus kalah di pertandingan ini, tapi tentu saja ada banyak hal positif yang bisa saya petik dari US Open tahun ini,” tutup Rybakina, dikutip rthk.hk dari AFP.***








