NEWSATU.COM – Remaja asal Spanyol, Rafael Jodar, melangkah ke perempat final Grand Slam pertamanya setelah bangkit dari ketertinggalan dua set untuk mengalahkan Pablo Carreno Busta dengan skor 4-6, 4-6, 6-1, 6-2, 6-2 pada turnamen tenis French Open 2026 di Roland Garros, Minggu (31/5).
Jodar, yang juga harus bermain sepanjang lima set pada babak sebelumnya, akan menantang unggulan kedua sekaligus mantan runner-up, Alexander Zverev, di babak perempat final. Zverev sendiri melaju setelah menumbangkan Jesper de Jong dengan skor 7-6 (3), 6-4, 6-1.
Di pertandingan lain, sesama petenis berusia 19 tahun, Joao Fonseca, melanjutkan kejutan besarnya setelah kemenangan lima set atas Novak Djokovic dengan kini menumbangkan dua kali runner-up Casper Ruud 7-5, 7-6 (8), 5-7, 6-2.
Lewat hasil ini, Fonseca menjadi petenis Brasil pertama yang berhasil mencapai babak delapan besar di Paris sejak Gustavo Kuerten pada 2004.
Kuerten, sang pemilik tiga gelar juara di Roland Garros, tampak merayakan poin dengan sangat ekspresif di barisan depan kursi penonton, sama bersemangatnya dengan Fonseca di dalam lapangan. Pada akhirnya, kedua pria Brasil itu merayakan kemenangan bersama.
Dalam sesi wawancara di atas lapangan, Fonseca menyebut Kuerten sebagai “idola bagi olahraga kami, bagi negara kami, karena karismanya.” Ia juga mengenang bahwa Kuerten sempat hadir langsung saat ia melakoni laga debut di turnamen junior Roland Garros sebagai anak berusia 15 tahun pada 2022 lalu.
Duduk tepat di belakang lapangan, Kuerten—yang akrab disapa Guga—terus memberikan gestur tubuh dan bersorak mendukung Fonseca dari awal hingga akhir pertandingan. Bahkan dalam beberapa momen penting, Fonseca tampak sengaja menatap ke arah sang legenda untuk mencari inspirasi.
Kuerten memang dikenal selalu meluapkan emosinya saat masih aktif bermain—momen yang paling ikonik adalah ketika ia menggunakan raketnya untuk menggambar simbol hati raksasa di atas tanah liat merah dalam perjalanannya merengkuh gelar juara pada 2001.
Fonseca, yang sebelumnya juga bangkit dari ketertinggalan dua set saat melawan Djokovic, sangat terkenal dengan pukulan bertenaga masif dan gaya bermainnya yang berisiko tinggi.
Ketika Ruud mendapatkan kesempatan pertama dari dua set point pada babak tiebreaker di set kedua, Fonseca langsung merangsek maju ke jaring setelah melakukan servis dan melepaskan pukulan drop-volley mematikan yang tidak bisa dikembalikan oleh Ruud.
Lalu pada momen match point pertamanya, Fonseca kembali maju mendekati net setelah servisnya dan melepaskan pukulan voli yang langsung menghasilkan poin kemenangan.
“Saya bermain sangat bagus di momen-momen krusial,” ujar Fonseca. “Saya hanya mencoba menjadi diri sendiri di lapangan… mencoba memberikan hiburan bagi penonton.”
Para penggemar yang mengenakan kaus kuning neon khas tim nasional sepakbola Brasil pun terus meneriakkan nama Fonseca setiap kali ia berhasil mencetak poin-poin besar.
Pada babak berikutnya, Fonseca akan menghadapi petenis berusia 20 tahun, Jakub Mensik. Mensik sukses meredam kebangkitan Andrey Rublev lewat kemenangan ketat 6-3, 7-6 (6), 4-6, 2-6, 6-3 untuk menjadi petenis putra Ceko termuda yang mencapai perempat final Grand Slam sejak Ivan Lendl pada 1980.
Ini merupakan pertandingan lima set kedua bagi Mensik sepanjang turnamen ini. Ia sempat ambruk di atas lapangan tanah liat akibat kram setelah dengan susah payah menumbangkan Mariano Navone lewat tiebreaker di set kelima selama 4 jam 41 menit pada babak kedua, sebelum kemudian mengalahkan Alex de Minaur dalam duel empat set meskipun sempat kalah telak 0-6 di set pembuka.
Baik Fonseca maupun Mensik terbukti telah menghabiskan banyak energi dan waktu yang panjang di atas lapangan.
“Saya merasa sangat lelah,” aku Fonseca. “Ini adalah pertama kalinya bagi saya, sebuah pengalaman baru untuk saya. Ini semua murni soal perjuangan hati.”***








