Selasa, Juli 21, 2026

Solar Subsidi Sulit Didapat, Pengemudi Ketek di Sungai Komering Rogoh Kocek Lebih Dalam

- Advertisement -spot_imgspot_img
- Advertisement -spot_imgspot_img

OKU TIMUR, NEWSATU – Di tengah gencarnya pembangunan infrastruktur di berbagai daerah, masyarakat Desa Karang Negara dan Desa Riang Bandung, Kecamatan Madang Suku II, Kabupaten OKU Timur, Sumatera Selatan, masih mengandalkan perahu ketek sebagai urat nadi transportasi sehari-hari.

Sungai Komering yang membelah kedua desa hingga kini belum memiliki jembatan penghubung. Akibatnya, ribuan aktivitas masyarakat mulai dari berangkat sekolah, bekerja, berdagang, berobat hingga mengurus administrasi pemerintahan masih bergantung pada jasa penyeberangan tradisional.

Namun di balik pentingnya perahu ketek, para pengemudinya kini menghadapi persoalan yang semakin berat, yakni sulit memperoleh solar bersubsidi.

Salah satunya dialami Bustan, pemilik sekaligus pengemudi ketek yang telah melayani warga sejak 2010. Selama lebih dari 16 tahun, ia menggantungkan nafkah dari jasa penyeberangan Sungai Komering.

“Alhamdulillah hasilnya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sama seperti buruh harian,” ujar Bustan.

Dalam sehari, perahunya menghabiskan sekitar enam liter solar ketika kondisi sungai normal. Saat debit air meningkat akibat banjir, konsumsi bahan bakar bisa mencapai tujuh liter bahkan lebih karena harus melawan derasnya arus Sungai Komering.

Yang menjadi persoalan, solar bersubsidi tidak selalu mudah diperoleh. Demi menjaga layanan penyeberangan tetap berjalan, Bustan terpaksa membeli solar eceran seharga sekitar Rp14.000 per liter, lebih dari dua kali lipat harga solar subsidi.

“Sebetulnya kami keberatan. Tapi ketek harus tetap jalan karena masyarakat sangat membutuhkan,” katanya.

Meski biaya operasional terus meningkat, Bustan mengaku tidak pernah menghentikan aktivitas penyeberangan hanya karena kesulitan memperoleh solar. Perahu hanya berhenti beroperasi jika mesin mengalami kerusakan.

Bagi masyarakat Desa Karang Negara dan Desa Riang Bandung, keberadaan ketek bukan sekadar alat transportasi, melainkan akses utama yang menghubungkan kehidupan sehari-hari.

Ironisnya, Desa Karang Negara yang telah memiliki sejarah pemerintahan sejak sekitar tahun 1902 hingga kini masih belum memiliki jembatan penghubung menuju Desa Riang Bandung. Lebih dari satu abad berlalu, harapan masyarakat akan hadirnya infrastruktur tersebut masih belum terwujud.

Karena itu, Bustan berharap pemerintah tidak hanya mempercepat pembangunan akses penghubung antardesa, tetapi juga memperluas distribusi BBM bersubsidi hingga ke kawasan pinggiran sungai.

“Harapan kami semoga BBM bersubsidi bisa sampai ke desa, sehingga masyarakat dan pengemudi ketek lebih mudah mendapatkan solar maupun Pertalite dengan harga yang semestinya,” harapnya.

Selama jembatan belum berdiri, perahu ketek akan tetap menjadi urat nadi yang menjaga denyut kehidupan masyarakat di tepian Sungai Komering. Namun tanpa kemudahan akses BBM bersubsidi, beban para pengemudi ketek dikhawatirkan akan terus bertambah, sementara masyarakat tetap menggantungkan mobilitasnya pada transportasi sungai tersebut. (ril)

- Advertisement -spot_imgspot_img
Latest news
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Related news
- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini