Minggu, Mei 29, 2022

Ini Syarat Pendaftaran Fasilitas Bidang Kebudayaan Tahun 2022

- Advertisement -spot_imgspot_img
- Advertisement -spot_imgspot_img

JAKARTA, newsatu.com — Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), kembali menyelenggarakan Fasilitasi Bidang Kebudayaan (FBK). FBK adalah bantuan pendanaan bagi komunitas budaya dan lembaga/organisasi kemasyarakatan yang bergerak di bidang kebudayaan.

Pendaftaran FBK 2022 dibuka Senin (14/2) hingga 14 Maret 2022  melalui laman  http://fbk.id.

Seleksi proposal FBK 2022 akan berlangsung pada 14 Maret-14 April 2022. Mekanisme seleksi FBK mencakup pendaftaran, seleksi proposal, pemilihan lokasi, unggah dokumen, penetapan, penetapan, lokakarya, dan kontrak kerja.

Pada laman http://fbk.id, para pengusul bisa mendapatkan informasi tentang petunjuk teknis FBK 2022, serta kontak dan ruang konsultasi untuk meningkatkan pelayanan publik terkait FBK.

Di laman tersebut, pengusul juga bisa melihat informasi seputar pelaksanaaan dan program FBK 2021. Penyelenggaraan FBK pada 2021 telah memfasilitasi sebanyak 131 penerima dan menghasilkan program-program terbaik di bidang kebudayaan yang menarik, serta memiliki potensi dan komitmen dalam upaya pemajuan kebudayaan baik di daerah masing-masing maupun dalam ruang lingkup nasional.

BACA JUGA :   Coronavirus myths busted by WHO for better Covid-19 awareness
BACA JUGA :   COVID-19: Australia to ban all arrivals of non-residents, says PM

Laman itu juga menampilkan secara singkat profil penerima dan profil kegiatan yang dilaksanakan dengan membantu memfasilitasi bidang kebudayaan. Termasuk di dalamnya, kontak penerima FBK untuk keperluan memperluas jejaring masyarakat dalam berkebudayaan.

Ada dua kategori cakupan kegiatan yang nantinya dilakukan oleh penerima bantuan. Pertama, dokumentasi karya/pengetahuan maestro. Kegiatan ini meliputi merekam dan merangkum karya ataupun pengetahuan seorang maestro. Kegiatan kedua yaitu pendayagunaan ruang publik. Kegiatan ini berupa pemanfaatan terhadap sarana atau prasarana publik, baik secara fisik maupun virtual untuk kepentingan pemajuan kebudayaan.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek, Hilmar Farid mengatakan, bagi komunitas atau lembaga yang masih belum paham dan ingin memperoleh penjelasan lebih mendalam, ada sesi Coaching Clinic mengenai FBK melalui pertemuan singkat selama satu jam.

BACA JUGA :   Peringati Hari Ibu, Yogyakarta Gelar Lomba Lukis Tas Pandan

Pertemuan tersebut akan dilakukan secara daring dan berlangsung dua kali dalam sepekan dengan dua  sesi pertemuan setiap harinya.

“Coaching clinic ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan serta pengembangan ide-ide yang akan dituangkan dalam bentuk proposal sehingga fasilitasi yang akan diberikan semakin terarah,” ujar Hilmar di Jakarta, Ahad (13/2).

FBK tahun 2022 mengangkat tema “Kearifan Lokal (Sandang, Pangan, dan Papan) untuk Kekinian dan Masa Depan”. Tema ini dipilih karena sandang, pangan, dan papan merupakan tiga fondasi utama yang menjadi landasan untuk bermasyarakat dan berinteraksi dengan alam dan manusia.

BACA JUGA :   Fearing coronavirus recession, France announces €45 billion in business aid

Berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Kebudayaan Nomor 1 Tahun 2022 tentang Petunjuk Teknis Bantuan Pemerintah Fasilitasi Bidang Kebudayaan Tahun 2022, komunitas budaya dan lembaga/organisasi kemasyarakatan yang bergerak di bidang kebudayaan akan menjadi prioritas penerima bantuan jika:

BACA JUGA :   COVID-19: Australia to ban all arrivals of non-residents, says PM

(1) berdomisili dan akan melaksanakan kegiatan kebudayaan di daerah 3T; (2) berada dalam provinsi yang memiliki nilai Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK) Tahun 2020 lebih rendah dari nilai IPK Nasional Tahun 2020; (3) secara programatik melibatkan atau membuka akses kepada partisipasi aktif disabilitas;

(4) secara programatik melibatkan perempuan sebagai aktor utama dan bertujuan untuk promosi kesetaraan gender dalam penyelenggaraan kegiatan kebudayaan; (5) secara programatik melibatkan atau membuka akses kepada partisipasi aktif kelompok lansia;

(6) melaksanakan kegiatan terkait Warisan Budaya Takbenda (WBTb) yang telah ditetapkan oleh Kemendikbudristek; dan (7) secara entitas maupun secara kepengurusan belum pernah menerima bantuan dari Direktorat Jenderal Kebudayaan sebelumnya.

BACA JUGA :   Coronavirus myths busted by WHO for better Covid-19 awareness

Ilustrasi foto dari headtopics.com

- Advertisement -spot_imgspot_img
Latest news
- Advertisement -spot_img
Related news
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here