NEWSATU.COM — Minimnya prestasi dan sulitnya tim nasional Indonesia bersaing di kancah internasional—termasuk di level Asia Tenggara—tidak serta-merta menjadi kesalahan para pemain semata. Kegagalan mencetak gol serta maraknya kesalahan dasar seperti yang ditunjukkan Timnas U-20 saat berhadapan dengan Malaysia pada Kualifikasi Piala Asia U-20 menjadi cermin lemahnya pembinaan berjenjang di tanah air.
Tokoh pembina sepak bola usia muda yang telah berkiprah lebih dari 30 tahun, Taufik Jursal Effendi, menyoroti kualitas teknis dan mental bertanding para pemain muda yang tampil di kancah internasional. Menurutnya, dua aspek krusial tersebut hanya bisa dibentuk melalui kompetisi domestik yang berkesinambungan dan kompetitif sejak usia 13 tahun.
“Dari daftar pemain yang tampil di timnas, siapakah yang benar-benar lahir dari kompetisi domestik yang ketat? Kebanyakan hanya tampil di turnamen singkat atau Piala Soeratin dengan jumlah laga minimal, sekitar 5 hingga 7 kali semusim,” ujar Taufik. Ia menilai seleksi pemain di tim nasional sering kali terbatas karena belum didukung sistem kompetisi murni yang memadai di bawah naungan federasi.
Liga Jakarta U17: Kawah Candradimuka Pemain Muda
Guna menjawab kebutuhan menit bermain bagi para pemain muda, Liga Jakarta U17 Piala Gubernur digelar oleh radiobola.co.id di Lapangan Pancoran Soccer Field (PSF), Jakarta. Pada musim sebelumnya, kompetisi ini diikuti oleh 18 klub dengan total 450 hingga 540 pemain yang berkompetisi aktif selama kurun waktu enam bulan.
Para pemain rata-rata mencatatkan 17 penampilan semusim dengan durasi 2 x 35 menit. Artinya, seorang pemain inti dapat mengantongi lebih dari 1.190 menit bermain di luar jam latihan rutin.
Untuk musim ini, Liga Jakarta U17 mempertandingkan 16 tim yang terbagi dalam dua grup. Setiap tim melakoni 14 pertandingan pada fase grup dengan format dua putaran. Empat tim terbaik dari masing-masing grup akan melaju ke babak selanjutnya hingga total memainkan 17 laga. Melalui jam terbang tinggi ini, para pemain diasah dari segi teknik individu, stamina, hingga ketahanan mental bertanding.
Proses pemantauan bakat di Liga Jakarta U17 (serta Liga Soeratin U15 yang digelar bersamaan) juga dikawal langsung oleh jajaran legenda sepak bola nasional. Nama-nama seperti Maman Suryaman dan Tias Tano Taufik bertindak sebagai tim scouting untuk kategori U-17, sementara Patar Tambunan dan Berty Tutuarima memantau talenta di kategori U-15.
Terbuka Peluang Tim EPA Liga 1 Rekrut Pemain dari Liga Jakarta
Sejauh ini, sekitar 30 hingga 40 pemain potensial berdasarkan posisi masing-masing telah masuk dalam catatan tim pemandu bakat.
Taufik Jursal Effendi, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Panitia Pelaksana Liga Jakarta U17 dan Liga Soeratin U15, menyatakan keterbukaan pihak penyelenggara kepada klub-klub peserta Elite Pro Academy (EPA) Liga 1 untuk memantau dan merekrut pemain-pemain terbaik dari ajang ini.
“Tim-tim Liga 1 kami persilakan mengambil pemain untuk tim EPA mereka dari Liga Jakarta dan Liga Soeratin yang kami gelar. Tentunya ada prosedur resminya, jangan asal mengambil pemain,” kata Taufik.
“Kami sangat terbuka menerima kedatangan tim pencari bakat dari klub Liga 1 di Lapangan PSF Pancoran. Mereka bisa berkolaborasi langsung dengan Coach Maman dan Coach Tias untuk mendapatkan pemain sesuai kebutuhan tim,” pungkasnya.***








