NEWSATU.COM – Liam Rosenior menyatakan keyakinannya bahwa Chelsea mampu meniru kesuksesan legendaris ‘Class of ’92’ milik Manchester United, seiring langkah klub mengejar trofi dengan mengandalkan barisan pemain muda.
Pria berusia 41 tahun ini akan menjalani laga pertamanya sebagai bos The Blues dalam putaran ketiga FA Cup melawan tim Championship, Charlton Athletic, Sabtu (10/1) waktu setempat.
Chelsea memiliki skuad termuda di Premier League musim ini—dengan Tosin Adarabioyo sebagai pemain tertua di usia 28 tahun.
Pendahulu Rosenior, Enzo Maresca, sempat mengisyaratkan bahwa kurangnya pengalaman dalam tim menjadi kendala saat skuadnya kesulitan menjaga konsistensi.
Namun, Rosenior justru mengacu pada contoh United, yang mendominasi sepakbola Inggris pada era 1990-an ketika David Beckham, Paul Scholes, Gary Neville, Phil Neville, Nicky Butt, dan Ryan Giggs menembus tim utama secara bersamaan dan menjadi juara sejati di bawah asuhan Sir Alex Ferguson.
“Orang-orang mungkin akan mengkritik saya, tapi dulu saya penggemar Manchester United dan sekarang saya adalah penggemar berat Chelsea,” ujar Rosenior, yang sebelumnya mengasuh skuad muda di Strasbourg Prancis.
“Saya ingat Sir Alex Ferguson cukup berani untuk memasukkan enam atau tujuh pemain berusia 19 hingga 21 tahun ke dalam timnya—tim juara—karena dia percaya pada mereka.”
“Hasilnya, mereka tumbuh dan memenangkan trofi demi trofi. Itu adalah periode luar biasa dalam sejarah klub tersebut. Tanpa keberanian itu, hal tersebut tidak akan pernah terjadi.”
“Potensi itu ada di sini. Memang belum menjadi kenyataan, tapi potensinya nyata. Lihat saja Moises Caicedo, Enzo Fernandez, Cole Palmer, atau Reece James—pemain kelas dunia yang masih sangat muda.”
“Itulah ambisi tertinggi klub ini—untuk menciptakan momen itu kembali. Saya tidak bermaksud menjamin hal itu pasti terjadi. Tapi saya tidak akan membatasi ambisi klub ini.”
“Tugas saya, seperti yang sudah saya tunjukkan di Strasbourg, adalah bekerja dengan pemain muda, meningkatkan kemampuan mereka, sekaligus memenangkan pertandingan. Tidak ada alasan mengapa saya tidak bisa melakukannya di sini juga.”
Ketika diingatkan bahwa para pemain muda United kala itu didampingi oleh pemain senior berpengalaman seperti Peter Schmeichel, Roy Keane, Eric Cantona, dan Steve Bruce, Rosenior menjawab: “Ya, dan Anda akan melihat seiring berjalannya waktu apa yang akan terjadi di sini dan diskusi yang telah kami lakukan. Proyek ini adalah tentang menang.”
“Ini bukan soal apa pun selain mencoba mempersembahkan trofi bagi Chelsea. Saya akan bekerja sangat keras untuk itu. Apakah saya masih di sini dalam tiga, empat, atau lima tahun ke depan, saya yakin klub ini akan sukses untuk waktu yang lama.”
“Anda harus paham bahwa usia hanyalah satu hal. Di sini juga ada pengalaman. Enzo (Fernandez) adalah pemenang Piala Dunia dan seorang pemimpin di grup ini.”
“Reece (James) telah memenangkan gelar dan banyak hal lainnya. Saya punya pemain dengan pengalaman di sini. Meski usia mereka lebih muda, mereka telah merasakan kemenangan bersama. Itulah yang ingin saya gunakan untuk bergerak maju dan memotivasi mereka meraih lebih banyak prestasi di masa depan.”
Bisakah Chelsea Meniru ‘Class of ’92’ Manchester United?
Secara teori, ide menjadikan Chelsea layaknya Class of 92 United sangat masuk akal karena visi pemilik Chelsea memang ‘mengoleksi’ bakat terbaik dunia di bawah usia 23 tahun.
Namun, apakah perbandingannya seimbang? Mari kita bedah.
Kekuatan Bakat yang Setara
Secara teknis, Chelsea tidak kekurangan bakat. Jika United era 90-an punya Beckham dan Scholes, Chelsea punya Cole Palmer yang sudah teruji sebagai pemain kelas dunia dan Enzo Fernandez yang merupakan pemenang Piala Dunia.
Potensinya nyata. Rosenior benar bahwa dari segi skill, barisan muda Chelsea adalah salah satu yang terbaik di dunia saat ini.
Faktor Pengalaman: Menepis Isu Bocah Ingusan
Rosenior menepis anggapan Maresca bahwa tim ini kurang pengalaman. Ia menunjuk fakta bahwa Enzo Fernandez dan Reece James sudah mencicipi trofi tertinggi (Piala Dunia dan Liga Champions).
Perbedaan mendasarnya: Class of ’92 tumbuh bersama sejak akademi. Sementara skuad Chelsea adalah kumpulan pemain ‘instan’ yang dibeli mahal dari berbagai penjuru dunia. Tugas Rosenior jauh lebih berat karena ia harus membangun koneksi batin yang dulu dimiliki Beckham dkk secara alami.
Keberanian ‘Ala’ Ferguson
Poin terkuat Rosenior adalah keberanian. Sir Alex Ferguson pernah diejek dengan kalimat “You can’t win anything with kids,” namun ia membuktikannya salah. Rosenior ingin mengambil risiko yang sama. Dengan kontrak 6,5 tahun, ia punya waktu untuk membiarkan para pemain ini ‘tumbuh’ bersama.
Visi Rosenior adalah sebuah paradoks yang berani. Chelsea punya mesin-mesin canggih (pemain mahal), tapi Rosenior-lah yang harus meraciknya menjadi satu kesatuan. Jika ia berhasil mematangkan mentalitas mereka seperti yang dilakukan Ferguson, maka era dominasi Chelsea bukanlah hal mustahil.
Apa Itu Class of ‘92
Class of ’92 adalah sebutan legendaris bagi sekelompok pemain muda Manchester United yang lulus dari akademi klub pada awal 1990-an dan menjadi tulang punggung kesuksesan luar biasa United di bawah asuhan Sir Alex Ferguson.
Istilah ini merujuk pada kesuksesan mereka menjuarai FA Youth Cup 1992, yang kemudian bertransformasi menjadi salah satu generasi pemain paling sukses dalam sejarah sepakbola dunia.
Ada enam nama ikonik yang menjadi inti dari kelompok ini:
David Beckham: Sang spesialis tendangan bebas dan umpan silang akurat.
Ryan Giggs: Pemain sayap lincah (sebenarnya sudah masuk tim utama sedikit lebih awal, namun dianggap bagian dari generasi ini).
Paul Scholes: Gelandang jenius dengan visi bermain dan operan luar biasa.
Gary Neville: Bek kanan tangguh yang kemudian menjadi kapten United.
Phil Neville: Pemain serba bisa yang mampu bermain di berbagai posisi pertahanan.
Nicky Butt: Gelandang petarung yang sangat disiplin di lini tengah.
Mengapa Mereka Begitu Terkenal?
Menghancurkan Mitos: Pada tahun 1995, pengamat bola Alan Hansen pernah berkata: “You can’t win anything with kids” (Anda tidak bisa memenangkan apa pun dengan anak-anak). Namun, Ferguson justru mengandalkan mereka dan langsung memenangkan Double Winner (Liga dan Piala FA) di tahun tersebut.
Puncak Kejayaan (The Treble 1999): Mereka adalah pemain-pemain inti saat Manchester United mencetak sejarah dengan meraih tiga trofi utama dalam satu musim pada 1999: Premier League, Piala FA, dan Liga Champions.
Loyalitas Luar Biasa: Berbeda dengan pemain modern yang sering berpindah klub, kelompok ini bermain bersama di United selama belasan tahun. Gary Neville, Paul Scholes, dan Ryan Giggs bahkan merupakan pemain “One Club Man” (hanya membela satu klub sepanjang kariernya).
Produk Lokal: Mereka semua adalah didikan asli akademi United, yang membuat hubungan emosional antara suporter dan tim sangat kuat.
Kaitannya dengan Chelsea & Liam Rosenior
Ketika Liam Rosenior menyebut Chelsea ingin meniru “Class of ’92”, artinya ia ingin membangun sistem di mana pemain-pemain muda Chelsea saat ini (seperti Cole Palmer, Enzo, James, dll) bisa tumbuh dewasa bersama-sama sebagai satu unit, daripada terus-menerus membeli pemain bintang yang sudah matang dari klub lain.
TABEL PERBANDINGAN: Potensi Muda Chelsea vs Legenda Class of ’92
| Kategori | Class of ’92 (MU) | Chelsea Current Core | Analisis Perbandingan |
| Playmaker Utama | David Beckham (Usia 21: 8 Gol, 8 Assist) | Cole Palmer (Usia 21: 22 Gol, 11 Assist) | Palmer Unggul Statistik: Secara angka individu, Palmer lebih meledak dibanding Beckham pada usia yang sama. |
| Jenderal Tengah | Paul Scholes (Gelandang Serang/Striker lubang) | Enzo Fernández (Deep-lying Playmaker) | Enzo Unggul Pengalaman: Enzo sudah punya medali Piala Dunia, sementara Scholes baru mulai menembus skuad utama Inggris. |
| Mesin Sayap | Ryan Giggs (Kecepatan & Dribel) | Estêvão Willian (Skill & Dribel) | Giggs Unggul Matang: Giggs sudah mapan di tim utama, sementara Estêvão baru memulai petualangan di Eropa. |
| Kapten/Bek | Gary Neville (Disiplin & Loyal) | Reece James (Power & Kualitas Umpan) | James Unggul Kualitas, Neville Unggul Kebugaran: James secara teknis lebih baik, namun Neville jarang cedera. |
| Gelandang Pengangkut Air | Nicky Butt | Moisés Caicedo | Caicedo Lebih Mahal: Secara harga pasar, Caicedo jauh lebih diunggulkan, namun Butt punya mentalitas juara liga lebih awal. |
Analisis “The Professor” (Liam Rosenior):
Keunggulan Chelsea: Dari segi statistik mentah (gol & assist) dan pengalaman internasional, pemain muda Chelsea saat ini sebenarnya berada di atas Class of ’92 pada usia yang sama. Cole Palmer adalah contoh nyata pemain yang levelnya sudah melampaui rata-rata pemain seusianya di era 90-an.
Keunggulan Class of ’92: Mereka memiliki koneksi batin karena tumbuh di asrama yang sama. Inilah yang belum dimiliki Chelsea. Rosenior harus menyatukan pemain dari berbagai budaya (Argentina, Inggris, Ekuador, Brasil) agar bisa sehati seperti Beckham dkk.
Tantangan Terbesar: Class of ’92 dibimbing oleh “Singa Tua” seperti Eric Cantona dan Roy Keane. Di Chelsea, Rosenior harus mencari siapa sosok pemimpin yang bisa mendampingi anak-anak muda ini saat situasi sulit di lapangan.
Secara bakat, Rosenior tidak berlebihan. Chelsea punya “bahan baku” yang bahkan mungkin lebih mewah dari Class of ’92. Masalahnya tinggal satu: Bisakah Rosenior memberikan waktu dan stabilitas agar mereka tidak dijual sebelum mencapai puncak performanya?***







