NEWSATU.COM – Kalau Anda pikir Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada ini sudah cukup bikin pusing karena penonton harus bolak-balik melintasi batas negara, tunggu sampai Anda lihat apa yang bakal terjadi di dua edisi berikutnya.
Zaman di mana satu negara yang gila bola menjadi tuan rumah tunggal—seperti Prancis 1998 atau Brasil 2014—tampaknya sudah mulai ditinggal. Dengan format baru 48 tim yang memainkan total 104 pertandingan, standar FIFA makin tinggi (butuh 14 stadion berkapasitas minimal 40.000 kursi). Efeknya, masa depan Piala Dunia bakal jauh lebih ambisius, ribet, sekaligus di luar nalar.
Piala Dunia 2030: Kegilaan Enam Negara Lintas Samudra
Bayangkan saja, Piala Dunia 2030 nanti bakal digelar di enam negara dan tiga benua sekaligus: Spanyol, Portugal, Maroko, Argentina, Paraguay, dan Uruguay!
Skema absurd ini dibuat demi merayakan hari jadi Piala Dunia yang ke-100. Tiga pertandingan pertama bakal dimainkan di Amerika Selatan (Uruguay, Argentina, Paraguay) sebagai bentuk penghormatan sejarah tempat lahirnya kompetisi ini pada tahun 1930. Setelah itu, sisa turnamen bakal langsung diboyong ke Eropa dan Afrika Utara.
Masalahnya, penerbangan dari Buenos Aires (Argentina) ke Barcelona (Spanyol) itu memakan waktu sampai 13 jam menyeberangi Samudra Atlantik! Tim yang apes harus rela terbang super jauh di tengah-tengah turnamen. Gara-gara ini, FIFA bahkan sempat kena kritik karena keputusannya dinilai bakal memperburuk dampak emisi terhadap lingkungan.
Menariknya, sebelum skenario enam negara ini diketok palu, Indonesia bersama Australia sebenarnya sempat berencana untuk ikut bidding (mengajukan diri) sebagai tuan rumah bersama. Namun, karena FIFA mendadak mempercepat proses pendaftaran dan membatasi opsi wilayah, rencana duet Indonesia-Australia tersebut terpaksa batal karena waktu persiapan yang terlalu mepet.
Piala Dunia 2034: Stadion Masa Depan di Arab Saudi
Gara-gara jatah benua untuk tahun 2030 sudah dihabiskan ke Eropa, Afrika, dan Amerika Selatan, aturan rotasi FIFA otomatis cuma menyisakan wilayah Asia atau Oseania untuk edisi 2034. Arab Saudi yang sudah sangat siap sejak awal akhirnya maju sebagai calon tunggal dan resmi mengamankan hak tuan rumah.
Proyek yang disiapkan Arab Saudi bener-bener kayak konsep di video game. Dari 15 stadion yang disiapkan, 11 di antaranya adalah bangunan yang benar-benar baru.
Yang paling gila adalah rencana pembangunan Stadion NEOM. Stadion berkapasitas 45.000 penonton ini bakal dibangun di atas proyek kota megastruktur “The Line”. Gak tanggung-tanggung, posisi lapangannya bakal berada 350 meter di atas permukaan tanah dan bertengger di atas pelabuhan marina!
Awalnya, seluruh proyek kota masa depan ini dianggarkan menyentuh angka fantastis 8,8 triliun dolar AS (sekitar Rp140 kuadriliun).
Walaupun belakangan kabarnya skala proyek tersebut mulai dipangkas karena evaluasi anggaran, Arab Saudi tetap berambisi menyajikan desain-desain stadion futuristik lain yang gak kalah aneh, seperti Stadion ROSHN yang berbentuk pecahan kristal menyala atau Stadion Pangeran Mohammed bin Salman yang dikelilingi balok-balok ungu raksasa mirip robot Transformer.***








